Inversio Uteri adalah : Kenali Pengertian dan Faktor Risikonya

Inversio uteri adalah komplikasi yang terjadi dalam proses melahirkan. Komplikasi ini ditandai dengan terbaliknya rahim ibu, baik sebagian atau secara penuh. Hal ini bisa berakibat fatal bagi ibu karena dapat menyebabkan pendarahan, trauma, hingga kematian.

Oleh karena itu, ibu hamil perlu mengetahui lebih dalam tentang inversio uteri. Termasuk juga gejala, penyebab, dan penanganannya.

Semua informasi tersebut bisa kamu dapatkan secara cuma-cuma melalui artikel berikut ini. Selamat membaca dan memahami tentang apa itu inversio uteri!

Penyebab Inversio Uteri

Tidak ada penyebab pasti yang dapat menjawab bagaimana inversio uteri bisa terjadi. Namun, ada teori yang berusaha mengemukakan penyebab komplikasi melahirkan ini. Penyebab itu misalnya kesalahan dari dokter, bidan, atau suster kala mengeluarkan plasenta. 

Bisa saja, pihak yang membantu ibu dalam melahirkan menarik tali pusar yang menghubungkan bayi dengan plasenta. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati, proses mengeluarkan plasenta ini bisa menyebabkan rahim terbalik.

Hal ini dapat terjadi terutama jika ibu memenuhi kondisi berikut:

  • Plasenta ibu tertanam di bagian atas rahim. Hal ini akan menyulitkan dokter atau bidan dalam mengeluarkan plasenta. Salah menarik tali pusar, rahim bisa terbalik.
  • Rahim ibu tidak mengalami kontraksi setelah melahirkan. Kondisi ini disebut juga dengan atonia uteri. Atonia uteri menyebabkan rahim tidak berkontraksi sehingga plasenta tidak terbantu untuk keluar dan pendarahan akan terjadi.

Selain itu, ada faktor-faktor lain yang memperbesar risiko terjangkitnya inversio uteri. Faktor-faktor tersebut yaitu:

  • Melahirkan di waktu yang lebih cepat daripada perkiraan.
  • Proses persalinan yang lama, melebihi 24 jam.
  • Ibu memiliki tali pusar yang pendek.
  • Penggunaan magnesium sulfat dalam persalinan yang bisa membuat otot menjadi rileks.
  • Memiliki placenta accreta, atau plasenta yang terlalu dalam menempel pada dinding rahim.
  • Memiliki rahim yang lemah atau abnormal.

Gejala Inversio Uteri

Inversio uteri adalah komplikasi yang bisa menyebabkan kehilangan darah dan trauma. Komplikasi ini memiliki beragam gejala tergantung tingkat keparahannya. Berikut ini adalah gejala-gejalanya:

  • Pendarahan pada vagina, baik pendarahan ringan maupun parah.
  • Tekanan darah menurun drastis.
  • Rasa sakit pada perut bagian bawah seperti tertekan.
  • Adanya kumpulan benda halus dan bulat yang muncul dari vagina.
  • Terus mengalami rasa haus.
  • Mengalami kram otot.
  • Detak jantung meningkat namun tingkat pernapasan menurun.
  • Merasa sangat lemah seperti pusing dan kelelahan berlebihan.
  • Kulit terasa dingin dan basah.

Tingkatan Inversio Uteri

Inversio uteri memiliki 4 jenis tingkat keparahan. Berikut tingkat-tingkatnya:

  • Incomplete inversion atau inversio tidak lengkap. Kondisi ini terjadi ketika bagian atas rahim telah terbalik tetapi tidak sampai melalui serviks.
  • Complete inversion atau inversio lengkap. Kondisi ini berupa rahim yang telah terbalik dan melewati serviks.
  • Prolapsed inversion atau inversio prolaps. Kondisi ini terjadi ketika bagian atas uterus telah keluar dari vagina.
  • Total inversion atau inversio total. Kondisi ini berupa rahim dan vagina telah terbolak-balik.

Penanganan Inversio Uteri

Ketika ibu yang melahirkan mengalami inversio uteri, dokter akan mengambil langkah penanganan berikut ini.

  • Memasukkan kembali rahim dengan tangan.
  • Melakukan transfusi darah untuk mengganti darah yang telah terbuang dari tubuh.
  • Memberikan obat-obatan untuk melunakkan rahim ketika akan dimasukkan kembali.
  • Memasukkan kembali rahim secara manual dengan kondisi ibu dalam anastesi.
  • Memasukkan cairan ke dalam vagina agar tekanan air yang ditimbulkan mengembangkan rahim dan mengembalikannya ke posisi sebenarnya.
  • Melakukan operasi di bagian perut untuk mengembalikan kembali posisi rahim.
  • Memberikan antibiotik untuk mengurangi risiko infeksi.
  • Memberikan oksitosin untuk memicu kontraksi dan menghentikan rahim agar tidak terbalik lagi.
  • Melakukan operasi histerektomi atau pengangkatan rahim jika kondisi ibu dalam bahaya.

Inversio uteri adalah komplikasi melahirkan yang perlu diwaspadai setiap ibu. Jika ibu menemui gejala-gejala yang telah disebutkan di atas, panggil dokter segera untuk mendapatkan penanganan yang cepat.

Atonia Uteri Adalah: Gejala, Penyebab, dan Penanganannya 

Atonia uteri adalah masalah kesehatan yang terjadi setelah masa persalinan. Penyakit ini tidak terbatas pada hanya satu cara melahirkan. Ibu yang melahirkan secara normal maupun operasi Caesar bisa mengalaminya.

Atonia uteri terjadi ketika rahim gagal melakukan kontraksi setelah melahirkan. Jika tidak ditangani dengan tepat, atonia uteri bisa berakibat fatal bagi ibu. Penyakit ini merupakan penyebab paling sering dari pendarahan pasca melahirkan yang banyak dialami ibu hamil. Bisa dibilang, atonia uteri merupakan keadaan darurat.

Mengapa atonia uteri bisa terjadi? Bagaimana gejala dan penanganannya? Semua jawaban atas pertanyaan tersebut bisa kamu temukan di artikel tentang atonia uteri ini!

Gejala Atonia Uteri

Atonia uteri ditandai dengan pendarahan berlebihan yang terjadi pasca persalinan. Namun selain itu, ada pula gejala lainnya seperti berikut ini:

  • Otot rahim rileks dan tidak berkontraksi setelah bayi lahir.
  • Mengalami sakit punggung.
  • Mengalami nyeri.
  • Tekanan darah menurun.
  • Detak jantung meningkat.

Penyebab Atonia Uteri

Atonia uteri adalah masalah yang perlu diketahui penyebabnya. Ini karena masalah ini berbahaya bagi ibu melahirkan.

Setelah melahirkan, ibu biasanya akan kehilangan banyak darah. Namun, masalah ini sudah diantisipasi oleh tubuh melalui kontraksi yang dilakukan otot-otot rahim pada dinding miometrium pasca melahirkan. 

Kontraksi yang dilakukan otot tersebut bisa menghentikan pendarahan dari arteri spiralis yang memasok darah ke endometrium. Jika otot rahim berkontraksi, maka aliran darah berkurang dan koagulasi atau pembekuan darah meningkat.

Semua hal tersebut dilakukan agar ibu tidak terkena pendarahan hebat pasca melahirkan. Namun jika ibu mengalami atonia uteri, otot rahim tidak berkontraksi sebagaimana semestinya. Akibatnya, ibu berisiko terkena pendarahan hebat.

Faktor Risiko Atonia Uteri

Ibu yang memenuhi kriteria di bawah ini memiliki risiko terkena atonia uteri lebih besar:

  • Melahirkan untuk yang pertama kalinya.
  • Telah melahirkan 5 anak atau lebih.
  • Mengalami persalinan panjang.
  • Penggunaan obat-obatan pendorong persalinan yang berlebihan.
  • Memiliki BMI (Body Mass Index) 40 ke atas atau lebih.
  • Pernah mengalami atonia uteri sebelumnya.
  • Memiliki rahim yang berukuran lebih besar dari kebanyakan orang.
  • Memiliki terlalu banyak cairan ketuban.
  • Mengandung janin dengan berat badan besar.
  • Mengandung 2 janin atau lebih.
  • Berusia 35 tahun atau lebih.

Penanganan Atonia Uteri

Penanganan atonia uteri dimulai dengan diagnosis dari dokter. Dokter akan mengira-ngira seberapa banyak darah yang keluar dari pembalut atau spons yang digunakan untuk menyerap darah. Selain itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan tidak ada robekan pada rahim dan tidak ada plasenta yang tertinggal di rahim.

Jika diagnosis telah dipastikan, fokus utama dokter selanjutnya adalah menghentikan pendarahan dan menggantikan darah yang hilang.

Cara yang dilakukan dokter adalah sebagai berikut:

  • Melakukan transfusi darah untuk menggantikan darah yang keluar dari tubuh.
  • Melakukan ‘pijat’ rahim. Dokter akan meletakkan satu tangan di vagina dan tangan lainnya menekan rahim melalui dinding perut.
  • Memberi obat oksitosin, prostaglandin, dan metilergonovina.
  • Melakukan operasi untuk mengikat saluran darah.
  • Menginjeksi partikel atau alat kecil ke dalam dinding uterina untuk memblokade aliran darah ke rahim. Alat yang dimasukkan misalnya kateter Foley, balon Bakri, dan kain kasa.
  • Melakukan operasi pengangkatan rahim atau histerektomi sebagai jalan terakhir jika tidak ada lagi yang berhasil.

Demikian artikel mengenai atonia uteri. Mengingat atoni uteri adalah momok yang berbahaya bagi ibu melahirkan, pemahaman tentang penyakit ini perlu ditekankan. Semakin cepat antisipasi dilakukan, maka semakin baik pula penanganannya.